Hantu Temanku
Kegiatan pasantren yang sangat padat membuatku lelah sekali serasa kakiku tidak bisa menopang tubuhku.
“tring” suara bel tanda belajar malam sudah selasai
“ah akhirnya belajar malam sudah selesai” kataku dalam hati
            Akupun berjalan keluar kelas menuju asrama sambil berjalan sempoyongan karena tak kuat menahan ngantuk dan ingin rasanya aku segera sampai di kamar dan merebahkan tubuhku yang semakin lama semakin berat ini di kasurku yang kiranya cukup empuk untuk seorang santri sepertiku.
            Di tengah perjalanan aku melihat banyak santri sedang mengkerumuni sesuatu di depan tangga lorong atas, akupun penasaran dan mendekati kerumunan tersebut namun aku tak melihat apa-apa karena tertutupi oleh badan kakak kelasku yang tinggi. Akhirnya rasa penasaranku kalah oleh rasa kantuku yang dari tadi sudah aku tahan, akupun melanjutkan perjalananku menuju asrama. Sesampai di asrama aku langsung masuk ke kamarku dan tanpa sadar aku sudah tertidur di depan lemariku bersama kasur lipatku .
“Ri Fahri cepet bangun” kata Fikri membangunkanku di tengah tidurku yang nyeyak
“hmmm……. Ada apa jangan ganggu ah”
“ri Fahri ayo bangun anterin ana dong ke hamam (kamar mandi dalam b. arab) plisss” kata Fikri memohon kepadaku
“ya elah antum ngebangunin ana cuman mau minta anter ke haman kayak bocah aja” kataku dengan nada sedikit marah dan ngatuk
“plis ri plis udah gak kuat ni buat kali ini aja ana takut pergi ke hamam sendiri aku janji deh gak akan ngebangunin kamu lagi kayak gini plisss……” kata Fikri memelas
“ogah ah ogah cari orang lain aja gih gue lagi cape banget hari ini” kataku
“yah jagan gitu dong ri fahri ayo anterin”
Karena tidurku tergangu oleh rengekan Fikri akupun mengiyakan keinginan Fikri
“Tapi janji antum jangan bangunin aku lagi loh ini udah hampir setiap hari loh”
“ia ia ana janji deh”
            Saat aku dan Fikri berjalan menuju hamam aku hanya terdiam ngatuk melihat lantai yang samar-samar. Sesampai di kamar mandi
“ri Fahri gimana nih hamam yahudi di kunci sama musyrif (pembimbing asrama dalam B. Arab)” kata Fikri
“hoem………..ya udah kita balik aja ke kamar aja udah ga kuat nih pingin bobo” kataku sambil nahan ngatuk
“lah jangan gitu dong anterin ana aja ke hamam lorong atas” kata Fikri dengan wajahnya yang memelas
“hemm ya udah ayo “
            Sesampai di tangga kamar mandi lorong atas aku melihat di tangga banyak sekali cairan merah yang beserakan
“ini apa yak kok mirip darah” kata ku dalam
“ah mana mungkin darah sebanyak ini berserakan paling juga cat tumpah sama si emang tukang kan ini asrama lagi di renovasi” kataku positive thingking meski aku sedikit aga takut
“klak klak” suara keran kamar mandi mulai terdengar, tanpa sadar fikri sudah tidak ada di hadapanku
"Fik Fik antum di mana?” seraya aku melihat di ujung lorong kamar mandi ada bilik kamar mandi yang nyala, kayaknya Fikri di bilik itu
“Fik loe di dalam?” Tanya ku
“hem” kata Fikri dengan singkat , namun aku yakin pasti di bilik ini adalah Fikri
            Akupun menunggu sambil jongkok di depan pintu bilik kamar mandi yang di gunakan Fikri.
“Crasssss, crassss, ngitt” suara air dari keran sudah mati bertanda fikri sudah selesai menggunakan jamban akupun berdiri dan menunggu Fikri keluar.
“Fik udah belum ?”
“ya ini lagi pake celana”
Namun tiba-tiba Fikri berteriak “ahhhhhhhhhh………….”
“Fik antum kenapa jangan nakut nakutin ana”
            Tiba dari tangga terdengar suara orang menaiki tangga dug,dug dug dan semakin lama semakin mendekat dug,dug dug,  klak,klak bercampur dengan sura tetesan air dari keran yang bocor, tak lama dari itu  aku melihat bayangnya seperti orang yang tidak mempunyai kepala dan di tanganya ia menteng kepalanya denga tali tambang
“Duk duk Fik cepatan udah belum ayo keluar” kataku dengan panik
“Fik” akupun mendobrak pintu bilik tersebut
Ahhhh…….. Fikri aku melihat fikri sudah tergantung di tali tambang dan sudah tak bernyawa dengan darah mengalir di lehernya karena goresan pisau, seketika hidungku mencium hanyir seperti darah. aku ingin berlari tetapi aku melihat sahabatku tergantung tak bernyawa di hadapan ku badanku kaku aku tidak bisa bergerak seperti ada seseorang yang menahanku. aku takut,aku sedih tetapi aku tak bisa apa-apa. tiba-tiba di belakangku ada seseorang yang menarikku
“hihhihih………………………… ayo Fahri ikut bersamaku hihihihihihi…………….. “
Ahhhh dia sosok bayangan tadi dengan kepala menggantung di tanganya aku memejamkan mata karena aku takut takut sekali
“ayo Fahri ikut bersama kami hihihih………. Bersama Fikri disini hihihi……….”
“astagfirulah ya Allah ustadddddddddddd …………… ustad TOLONG!!!! “
Akupun pingsan karena terlalu takut. Saat aku tersadar aku berada di ruangan pak kiyai
“anta udah bangun “ kata ustad zaenal
“udah tad”
“tadi kamu kenapa?”
“tadi aku ngelihat hantu yang bawa kepalanya pake tali tambang”
“ohh” pak ustad pun mengambil tasbih yang panjang lalu menggantungkan kepalanya di tasbih itu
“seperti ini”
“ahh…….”aku pun pingsan kembali karena terlalu takut 
Setelah pingsan aku pun sadar kembali dan sekarang aku berada di bilik kamar mandi tempat aku menunggu  tanpa melihat apa-apa aku pun berlari menuju ruang musyrif
Akhi akhi tolong ana ada hantu di hamam lorong atas
Tanpa pikir panjang para musyrifpun berlarian ke khamam lorong atas karena melihat baju yang berlumuran darah dan akupun di tenangkan oleh akhi gazali dan di antarkan ke kamar. Karena kejadian itu terjadi hingga subuh semua santri melihat kearahku dan bertanya-Tanya kepadaku
“Ada apa Ri ada apa” semua orang bertanya silih berganti
Akupun hanya bisa diam dan tidak berkata apa-apa, setelah itu aku mandi dan sholat subuh di masjid sambil memikirkan kejadian itu.
Waktu sudah mulai pagi dan aku masih memikirkan kejadian yang menimpaku kemarin malam tiba tiba datang akhi ghazali.
“tenang jangan kamu pikirkan lagi semuanya sudah di urus oleh para musyrif dan kejadian semalam itu anggap saja itu tidak ada”
“ tapi bagaimana dengan Fikri dari tadi tidak ada kabar tentangnya”
“Fikri ? ahh ia , tapi kamu yakin mau dengar tentang Fikri?”
“ya memang kenapa? ada apa dengan fikri?”
“ah anak itu, dia adalah anak dari seorang dukun di kampung ini lalu kedua orangtuanya yang dukun itu berjanji akan berhijrah dan memamsukan anaknya kesini sebagai santri”
“lalu bagaimana?”
“nah terus orang tuanya fikri kemarin ingkar janji untuk berhijrah dan ingin anaknya dikembalikan namun pak kiyai tidak memberikanya dan Fikri pun tidak mau kembali kepada orangtuanya. Akhirnya Fikri di santet oleh kedua orangtuanya. Kamu lihat kan berapa hari kebelakang Fikri jadi aneh”
“ia bahkan beberapa hari kebelakang dia sering membangunkanku tengah malam untuk mengatarnya ke kamar mandi mungkin dia ketakutan akan di datangin mahkluk halus yang menganggunya. Lalu sekarang Fikri dimana”
“ahh dia sebenarnya dia sudah meninggal sebelum kejadian Kamu semalam. dia meninggal karena kerasukan setan yang membawa tubuhnya untuk loncat dari lantai 3 dan jatuh di depan tangga lorong atas”
“oh ternyata waktu ada kerumunan santri di tangga lorong atas untuk melihat jasad Fikri” kataku dalam hati
“lalu sekarang kuburan Fikri dimana?” Tanyaku kepada akhi Ghazali
“dia sudah di kubur di pemakam pastern tadi malam”
“lalu semalam aku mengatarkan siapa ?”
Tanpa keterangan yang jelas akhi Ghazali pun pergi meninggalkan ku.

            Setelah mendengar cerita itu akupun menangis dan tak bisa berkata apa-apa aku langsung pergi ke pemakam itu dan berdoa untuknya, temanku yang sangat dekat denganku kini sudah tak ada, ingin rasanya aku mengulang waktu dan menyelamatkan Fikri aku tidak rela Fikri tidak ada untuk selamanya tapi apa daya ini mungkin sudah takdir.

Fahri Nur Hidayah, 31 May 2018

Komentar